Advertising

Sunday, April 19, 2015

Di Mana Bisa Kita Temukan Khalifah al-Mu’tashim di Zaman Ini?

Di Mana Bisa Kita Temukan Khalifah al-Mu’tashim di Zaman Ini? Mari kita perhatikan, jalan mana yang saat ini kita tapaki, agar kita bisa ketahui kemana arah yang kita tuju dalam hidup ini Karen Amstrong, dalam buku Biography of Muhammad mengatakan, “Kaum Muslim adalah peletak dasar peradaban agung di semua aspek peradaban manusia di altar kehidupan ini

PADA malam hari, kota ini diterangi lampu-lampu yang gemerlapan sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya beralaskan batu ubin, dan bersih dari sampah-sampah yang berserakan. Kota ini juga berhiaskan taman-taman yang hijau, memiliki tempat pemandian berjumlah 900 buah, bangunan-bangunan sebanyak 80.000 buah, masjid 800 buah dan berpenduduk lebih dari satu juta jiwa.

Di kota ini terdapat istana az-Zahra yang megah dan keindahannya menyejarah karena bernilai seni tinggi dan dibangun dengan teknologi yang canggih, sampai-sampai sejarawan Turki, Dhiya Pasha mengatakan bahwa istana az-Zahra merupakan keajaiban zaman yang belum pernah terlintas imajinasinya dalam benak arsitek sejak Allah menciptakan alam ini. Kota ini bernama Cordoba, terletak di Andalusia, dimana negara Spanyol kini berada.

Begitulah pemandangan dan suasana ketika umat Islam mencapai zaman keemasannya dalam sejarah.  Peradabannya gemerlap dengan indahnya akhlak dan kemajuan ilmu pengetahuan serta keindahan arsitektur bangunan.

Karen Amstrong, dalam buku Biography of Muhammad mengatakan, “Kaum Muslim adalah peletak dasar peradaban agung di semua aspek peradaban manusia di altar kehidupan ini. Mereka juga meletakkan dasar-dasar metodologi berpikir brilian yang menjadi acuan dasar para pemikir Eropa pada abad pertengahan, bahkan hingga masa kini.”

Tapi setelah berbagai persoalan datang mendera baik itu dari internal maupun eksternal, maka berlakulah fase kemunduran yang penuh dengan ratapan, tangisan dan penderitaan. Saat Khilafah Utsmaniyah dihapuskan oleh pengkhianat bernama Musthafa Kemal, seorang penyair Turki berkata:

Kini senandung pengantin berbalik menjadi ratapan

Aku meratap di tengah lencana-lencana kegembiraan

Kau dikafankan di malam pengantin dengan pakaiannya

Dan tatkala pagi akan menjelang, engkau telah sirna

Mimbar-mibar dan tempat adzan bergerak untukmu

Sedangkan kerajaan-kerajaan meratap menangisi kepergianmu

India, Walhah dan Mesir demikian bersedih ditinggalkanmu

Menangis dengan air mata yang deras untuk kepergianmu

Syam, Iraq dan Persia semua bertanya-tanya

Adakah oleh orang-orang dari muka bumi, khilafah telah dimusnahkan?

Wahai alangkah malang, dikubur hidup-hidup orang yang merdeka

Dibunuh tanpa melakukan kesalahan dan kejahatan



Seorang intelektual asal Aljazair, Malik bin Nabi mengatakan, bahwa sebuah peradaban akan terus menanjak naik tatkala yang menjadi panglimanya adalah ruh. Dengan ruh, sebuah peradaban akan menjadi peradaban yang bersih dan tak terkotori. Pada masa inilah peradaban akan dianggap mencapai puncak yang sebenarnya.

Pada tahapan kedua, peradaban akan mengalami perluasan dan pemekaran wilayah, tatkala yang menjadi pemain dalam peradaban itu adalah akal. Peradaban yang dikendalikan oleh akal akan mengalami tarik menarik yang demikian kencang antara ruh dan hawa nafsu.

Dan jika hawa nafsu menjadi panglimanya, maka terjadilah tahapan yang ketiga, yaitu fase kehancuran dan kebangkrutan. Pada titik inilah peradaban akan meluncur deras ke titik paling bawah dalam sejarah.

Itulah fakta sejarah. Bangsa Arab dahulu bukanlah siapa-siapa. Dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Khulafaur Rasyidin, bani Umawiyah dan bani Abbasiyah, Islam bisa meraih kejayaan dan menjadi soko-guru dalam peradaban. Wilayah kekuasaan mereka terbentang luas dari Andalusia sampai negeri India. Hal ini bisa dicapai karena mereka bersenyawa dengan Islam, Al-Quran dan sunnah dijadikan sebagai pedoman.

Maka ketika mereka terlena dengan musik, tari-tarian, pertunjukan tengah malam dan masuknya perselisihan, maka dicabutlah amanah kepemimpinan itu dari mereka. Allah Subhanahu Wata’ala serahkan kepada bangsa Kurdi dengan tokohnya yang gemilang, Nuruddin Muhammad Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Di tangan mereka, masjid al-Aqsha yang dikuasai Pasukan Salib selama 88 tahun berhasil direbut dan diselamatkan.

Ketika bangsa Kurdi berpaling dari Islam, Allah Subhanahu Wata’ala serahkan estafet kepemimpinan kepada Mamluk, bekas-bekas budak dari Asia Tengah, dan kemudian diberikan kepada bangsa Turki.

Lewat perantara salah satu pemimpinnya yang agung, Sultan Muhammad al-Fatih, Kota Konstantinopel yang telah dijanjikan akan ditaklukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam 8 abad sebelumnya, bertekuk lutut dan menyerah di bawah telapak kakinya.

Kekuasaan Turki Utsmani mencengkram kuat di daratan Eropa dan mampu bertahan selama 6 abad lamanya dan menjadi adidaya yang ditakuti oleh bangsa-bangsa Eropa.

Sunnatullah terus berlaku, ketika sultan-sultan Turki Utsmani menjauh dari syariat Allah dan Rasul-Nya, maka kekuasaan mereka yang terbentang luas dari tanah Hindustan, India hingga wilayah Balkan, Eropa menjadi bercerai berai, seperti makanan yang terhidang di meja, diperebutkan dan disantap dengan buas oleh bangsa Eropa.

Sampai detik ini, belum ada lagi generasi Muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah Islam yang telah runtuh.

Sebaliknya, umat Islam dinistakan dan mendapatkan perlakukan yang sewenang-wenang di berbagai belahan dunia. Jika dulu hanya karena seorang wanita ditawan; “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”, ratapnya dalam tawanan. Khalifah al-Mu’tashim langsung menunggang kudanya dan bersama bala tentaranya pergi menyelamatkan dan membebaskan wanita tersebut. “Ku penuhi seruanmu!”, ujar sang khalifah setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut.

Tapi saat ini, ratusan bahkan ribuan wanita Muslimah menjerit dan berteriak, dianiaya, diperkosa dan dizhalimi di Palestina, Suriah, Iraq, Afghanistan, Rohingya dan negeri Islam lainnya, belum ada dari kita yang bisa menyelamatkan dan membebaskan mereka. Betapa menyedihkannya!

Di mana Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash yang mengalahkan adidaya Persia?

Di mana sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan masjid al-Aqsha?

Di mana tentara-tentara Thariq bin Ziyad yang menggemparkan bumi Andalusia?

Di mana pasukan al-Fatih penakluk Konstantinopel, yang membuat gentar Eropa?

KITA sebagai umat Islam harus bangkit dari lumpur kehinaan ini dan berupaya untuk merajut kembali kiswah peradaban yang telah lama robek dan koyak. Memang tak ada faedah yang akan kita dapatkan, dengan hanya meratapi dan menangisi puing-puing masa lalu yang telah lapuk dan hancur.
Salah satu upaya cerdas yang bisa kita lakukan adalah merenungi dan mempelajari lembar tiap lembar, membaca buku sejarah umat Islam, mulai dari masa Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, masa Khulafaur Rasyidin, Umawiyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Mamluk hingga kekhilafahan Utsmaniyah agar kita bisa memetik hikmah dan mengambil pelajaran apa saja yang menjadi faktor kebangkitan dan kejayaan mereka dan apa saja yang menjadi penyebab keruntuhan peradaban yang mereka bangun.
Dalam sebuah syair dikatakan;
Pelajarilah sejarah!
Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya,
ibarat anak pungut yang tak mengetahui nasabnya.
Atau seperti orang yang hilang ingatannya,
hingga ia tidak ingat tentang masa lalunya.
Pemahaman dan penghayatan mengenai sejarah masa lampau merupakan sebuah keniscayaan bagi pembangunan umat dan peradaban. Tatkala Allah Subhanahu Wata’ala mengutus Nabi Musa as kepada Bani Israil yang telah lemah mentalnya dan rusak kepribadiannya, Nabi Musa as berkata: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (QS. al-Maidah: 20)
Bani Israil telah melupakan kegemilangan sejarah nenek moyangnya: Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Yusuf as, sehingga merasa diri mereka sebagai bangsa budak yang selalu terbelenggu dan lupa terhadap keistimewaan-keistimewaan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada mereka. Kita adalah umat terbaik dan umat yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala untuk memperjuangkan risalah akhir zaman yang berlaku universal dan global. Dan tentunya, mentalitas kita tidak seperti mentalitas Bani Israil di masa Nabi Musa as, yang melupakan kejayaan yang dicapai oleh pendahulunya bukan? Na’udzubillah…
Kita sebagai umat Islam hendaknya berusaha menjunjung tinggi dan memperjuangkan risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagaimana yang pernah digemakan oleh al-Miqdad bin Amr ra saat diseru untuk berperang melawan kaum musyrikin oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa, ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja.’ Tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua.”
Menyadari bahwa sejarah para pendahulu kita merupakan warisan kekayaan yang begitu agung, maka mengkaji, menelaah, mempelajari dan menghayati setiap langkah generasi terdahulu merupakan salah satu pra-syarat utama kembalinya kejayaan Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad, perjuangan dan pengorbanan mereka merupakan modal utama perjuangan umat Islam yang sungguh tiada ternilai harganya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Menyelami sejarah para shalafus shalih bisa menjadikan seorang Muslim memandang rendah dunia, melawan daya tariknya dan kelezatannya yang fana. Dia juga akan menjadikan melangkah dan bergerak di bumi namun semangat dan cita-citanya melambung mengangkasa.
Salah seorang ulama rabbani yang sangat berpengaruh dalam membentuk mental sang penakluk Konstantinopel, Syaikh Aaq Syamsuddin setiap hari menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam, serta menanamkan kepribadian Rasul melalui sirah-nya kepada Muhammad al-Fatih. Ia juga menceritakan kepahlawanan dan kegagahan para sahabat dan penakluk lainnya, kehebatan mereka yang tak terbendung, perjuangannya hingga berakhir syahid di jalan-Nya dan juga usaha-usaha yang dilakukan pendahulu mereka dalam upaya menaklukkan Konstantinopel. Dan itulah salah satu faktor penentu yang membuatnya sukses menaklukkan ibukota kerajaan Byzantium tersebut.
Dalam membaca sejarah, hendaknya kita melakukan analisis yang mendalam terhadap sejarah tersebut. Lembar demi lembar kita buka untuk menengok kembali peristiwa-peristiwa yang telah tertutupi debu selama berabad-abad lamanya.
Mari kita perhatikan, jalan mana yang saat ini kita tapaki, agar kita bisa ketahui kemana arah yang kita tuju dalam hidup ini. Seorang mukmin yang berakal akan memetik hikmah dan mengambil pelajaran yang menjadi sebab-sebab kejayaan Islam yang pernah diraih, juga tentunya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu, yang menyebabkan mereka terkubur dalam puing-puing sejarah.*

Penulis adalah anggota Kelompok Studi Palestina (KSP). Kini magister Informatika Opsi Sistem Informasi Institut Teknologi Bandung (ITB)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

 Fais al-Fatih